Tulisan dari Hati

Cerita Tentang Seorang Teman SMA yang Misterius

Harusnya tulisan ini sudah saya posting sejak Maret 2014 lalu. Tapi, ternyata masih tersimpan di folder Draft. Mungkin ini gara-gara paket internet modem habis, trus kelupaan. Jadi, saya akan posting sekarang saja, daripada semakin lupa, hehehehe…

28512_102659586447876_2236847_n

Ini cerita tentang masa SMA dan teman saya yang misterius.

Banyak orang bilang, masa SMA adalah masa paling indah. Mungkin benar juga begitu. Sejauh saya mengingat, masa SMA saya memang menyenangkan. Bersekolah di SMU Negeri terbaik nomor 2 di seantero kota Magelang itu menyisakan memori yang indah buat dikenang.

Masa-masa di SMA  merupakan masa-masa saya dan mungkin banyak teman lain yang mulai mengenal cinta pertama (aduh jadi kangen sama orang yang pertama kali saya taksir di SMA, yang sekarang udah punya anak istri, hahaha), merasakan indahnya persahabatan, mengenal internetan di warnet pecinan dan bersaing untuk dapat nilai rata-rata at least 97 di raport.

Jika ada mesin waktu dan disuruh balik ke masa-masa itu, rasanya saya rela-rela saja flash back, kembali menyusuri jalan Medang setiap pagi sambil terburu-buru mengejar pintu gerbang sekolah agar nggak ditutup pak satpam yang terkenal dengan kumisnya yang khas.

Saya rela disuruh lari keliling pecinan atau pasar sambil diliatin pedagang-pedagang di situ, pas jam olah raga. Maklum, sekolah saya memang letaknya di pusat kota, diapit pecinan dan pasar. Saya rela juga dibentak-bentak kakak bantara pas persami, karena di sana, saya bisa memandangi cowok yang saya sukai  lama-lama. Atau belajar di kelas agama sambil surat-suratan sama temen-temen yang rata-rata beda kelas. Jadi, kelas agama lebih mirip kelas meluapkan kekangenan sambil nulis surat yang isinya malah ngegosip gak jelas sambil gambar malaikat berkepala botak 😀

Saya juga pengen banget kembali di setiap hari Sabtu, mampir ke rumah sahabat saya (Ing Syu) sepulang sekolah, yang kebetulan rumahnya adalah kedai jamu tradisional di daerah pecinan. Biasanya sih kami akan nonton film horor bareng-bareng teman sekelas atau main game Final Fantasy.

Saya juga merindukan nginep di sekolah, ngakunya petugas PMR padahal pengen ikut-ikutan nakut-nakutin adik kelas yang lagi pada jurit malam.

Saya juga pengen mengulangi ikut paduan suara, dengan suara anggotanya yang pas-pasan dan nggak pernah berhasil lebih bagus dari paduan suara SMA 1.

Betapa saya sangat merindukan masa-masa itu. Jalan malem-malem dan nginep di Sendang sono bersama teman-teman dan tidur desek-desekan. Tampil nyanyi bareng BFF saya, Tias, di hadapan tamu kepala sekolah dari luar kota. Yang paling berkesan ya nyanyi lagunya KLA, “Negeri di Awan”, diiringi keyboard oleh Ingsyu a.k.a Winoto Sugiarto dan berduet dengan Tias yang cantik. Yang sekarang Tias-nya udah mau punya anak dua. Oh my Godddd….. anaknya udah mau dua. Berasa tua mendadak. Yang bikin bangga lagi, setelah nyanyi mendapat tepuk tangan meriah dari kepala sekolah se Jawa Tengah. Emejing kan. Jadi berasa punya suara bagus & udah rekaman 9 album gitu rasa bangganya.

Terus, yang ngga terlupakan lagi adalah kebiasaan pulang sekolah jalan kaki sampai shopping, lalu menyusup ke pasar Rejowinangun, makan martabak isi telor bareng teman-teman sejurusan angkot pulang.

Dan, ngga ada yang nikmatnya bisa menandingi tempe goreng dicampur kecap ama saos di kantin pak Stanis. Makan es lautan asmara dan pasir putih, di Es Enny buat ngerayain ulang tahun temen. Mampir ke toko Duta untuk beli kado barang-barang China yg lucu-lucu dan mampir ke kios bacaan untuk minjem komik di Kawatan. Dan masih banyak kenangan lucu lainnya bersama teman dan sahabat saya saat SMA dulu.

Dan di antara banyaknya kenangan bersama teman-teman itu, sampai hari ini saya baru benar-benar ingat kalau saya punya seorang teman yang namanya, menurut saya sangat bagus.

Nirwana Abadi.

Saya yakin, di balik namanya ini, orang tuanya pasti menyisipkan banyak sekali doa dan harapan yang baik dan indah seperti nirwana, namanya. Kalau bukan karena kemarin saya demam dan malamnya saya memimpikan Nirwana, mungkin hari ini tidak akan terbersit dirinya dalam benak saya dan menuliskannya di sini. Baiklah, karena menurut saya, teman saya ini juga menjadi bagian dari kenangan saya di saat SMA, saya akan menceritakannya.

Saya bertemu Nirwana di kelas 1-3. Sayangnya, satu sekolah selama 3 tahun dan satu kelas selama 2 tahun, tidak membuat saya cukup mengenal dirinya. Dia sangat pendiam. Sangat. Bahkan, saking pendiamnya, terkadang diajak ngobrol dia tidak menjawab, hanya sekedar menggerakkan kepala atau pundak.

Tak jarang, karena sifatnya yang pendiam itu, dia menempati bangku paling depan dan pojok hampir selama 3 tahun. Karena sifatnya yang pendiam itu, dia juga kerap menjadi obyek keisengan teman-teman sekelas. Saya tidak ingat, keisengan apa yang saya lakukan padanya.

Tapi, rasanya munafik jika saya bilang, saya nggak pernah ikut-ikutan berlaku iseng padanya. Sebenarnya, keisengan itu, bertujuan agar dia sedikit saja merespon candaan teman-teman. Tapi pendiriannya terlalu kuat. Senyum pun tak pernah mengembang dari bibirnya. Di saat semua murid bergembira, ia tetap duduk diam di bangkunya.

Ketika kini saya dewasa dan kerap menulis artikel psikologi tentang anak-anak, tiba-tiba saya teringat Nirwana.

Sekarang anti bullying di gembar-gemborkan, bahkan oleh artis-artis macem Demi Lovato sama Taylor Swift. Tapi jaman saya sekolah dulu, mungkin tak ada yang mengerti apa itu bullying. Meski kami tidak pernah menyakiti dia secara fisik, tapi saya rasa perlakuan iseng itu juga termasuk ke dalam kategori bullying. Mungkin, jika dulu guru BP sempat menjelaskan tentang bullying dan memberi contoh konkrit tentang bullying, saya rasa teman-teman dan saya paling tidak mengerti apa yang harus dilakukan pada Nirwana.

Niwana adalah anak yang pandai. Semua orang mengakuinya. Terbukti bahwa sebenarnya dia mampu menyerap semua mata pelajaran dengan baik dan selalu naik kelas dengan prestasi yang tidak terlalu buruk. Padahal, kami bahkan kerap mendapati buku catatannya kosong. Atau mendapati dia sedang melamun maupun tertidur pulas di tengah mata pelajaran. Guru-guru juga sudah angkat tangan dan melambaikan bendera putih menghadapi Nirwana.

Mungkin Nirwana butuh perhatian. Mungkin juga dia butuh teman yang memahaminya. Dan kami teman-temannya tidak ada yang bisa mengerti dia. Saat itu, saya juga tidak pernah tahu mengapa dia tidak pernah merespon setiap hal yang dikatakan orang lain padanya. Dia tidak pernah marah atau tersenyum. Dia hanya bicara seperlunya. Dan itu jarang terjadi.

Ketika saya sedang menulis rubrik psikologi anak, terutama yang bertema bullying, saya tiba-tiba sadar, mungkin waktu itu mestinya Nirwana nggak kami isengi. Mestinya saya berani membelanya, bukan malah ikut-ikutan nge-bully. Eh, tapi saya kayaknya nggak pernah nge-bully dia yang sampai parah gitu sih. Paling ikut-ikutan ngetawain doang. #Ehhh… sama aja ya.

Hmmm, iya sih, harusnya, sejak dulu saya sadar dan memiliki pemikiran seperti ini. Peduli dan memahami teman seperti Nirwana. Tapi ya namanya saat itu masih remaja. Mana mungkin 10 tahun yang lalu, saya bisa mikir sejauh seperti sekarang saya berpikir. Sedangkan bullying sendiri masih awam banget buat orang tua dan guru. Jadi, istilah bullying  bener-bener asing di masa itu.

Sekarang saya bahkan tidak tahu Nirwana ada di mana. Sudah saya kepo-in di Facebook, Twitter dan medsos lainnya. Nggak nemu Nirwana Abadi yang dulu jadi teman saya. Mendadak kok jadi kaya detektif gini ya, nyari temen yang bahkan mungkin sekarang juga udah lupa kali sama saya. Agak sedih sih, pas ada teman yang cerita pernah ketemu Nirwana beberapa waktu lalu, tapi Nirwana nya pura-pura lupa dan nggak ngaku kalo dia Nirwana. Padahal sih menurut teman saya, dia yakin 400 % kalo itu dia. Semoga dia bersikap demikian bukan akibat dari keisengan kami dulu 😦

Ahhhh, semoga di mana pun Nirwana sekarang berada, ia sedang menjalani kehidupan yang baik dan bahagia. Be happy, Nirwana 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s