Tulisan dari Hati

Ibu, Ingat Mantan-mantan Saya Nggak?

Setiap kali saya menelepon ibu saya, selalu saja ibu saya bertanya tentang kira-kira kapan saya mau menikah. Kira-kira sekarang saya dekat dengan cowok mana? Bisa diajak serius nggak? Trus selalu saja yang diceritain nggak jauh-jauh dari jodoh. Temen saya yang itu udah mau punya anak 3. Anaknya bu itu kemarin habis nikah. Kemarin tetangga yang itu nanya, kapan kamu nikah. Dan berentetan pertanyaan dan cerita yang membuat saya pusing kepala.

Saya paham, ibu saya bertanya begitu karena menyayangi saya, peduli dan khawatir. Padahal, justru yang ada saya tambah sedih dan sedikit tertekan ditanya begitu terus setiap menelepon ke rumah. Seandainya ibu saya suatu hari nanti membaca tulisan ini, saya ingin ibu saya tahu mengapa saya sangat sebal menanggapi pertanyaan-pertanyaan ibu saya soal jodoh.

Baiklah, ibuku sayang, saya akan mulai dengan cerita ini :

Ketika saya semester 4 dulu, ibu saya pernah marah besar karena saya membawa pacar saya ke rumah. Ya, itu karena wujud pacar saya nggak sekeren pacar2 kakak saya. Dia besar, tinggi, dan hitam. Jujur, waktu itu saya pacaran sama dia karena butuh seseorang yang bisa antar jemput ke kampus yang jauhnya gak kira-kira ples ngga ada angkot, ahahahahaha…akhirnya ngaku setelah bertahun-tahun.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai menyayangi dia kok. Walopun ibu saya benci setengah mati sama itu cowok, tapi saya tetap berperan menjadi pacar yang baik, lho. Dulu saya berpikir, kenapa sih ibu saya benci banget sama dia. Kan bukan salah dia juga dia punya tampang nggak keren. Hingga akhirnya saya tahu, bukan perkara tampang saja yang ibu saya permasalahkan.

Ketika saya putus dengannya, saya nggak sedih sama sekali. Karena saya yakin, saya membuat keputusan yang benar. Dan ibu saya pasti setuju. Dua tahun menjalani hubungan dengannya, saya tidak pernah tahu bahwa dia punya track record yang buruk di mata hampir semua orang. Saya buta hanya karena butuh tebengannya. Kalau cuma masalah tampangnya yang nggak keren sih saya nggak masalah, tapi kalau sudah berhubungan dengan perilaku kasar, suka terlibat masalah dengan banyak  pihak  dan segudang permasalahan pribadi yang sulit, lebih baik saya sudahi.

Ibuku sayang, seandainya saat itu saya tidak putus dengannya, mungkin saat ini saya sudah menikah. Tapi apakah ibu bahagia melihat saya menikah dengannya, sementara dia tidak bisa menafkahi saya dengan benar. Ibu pasti juga sedih melihat dia sering memukul atau melempar saya dengan handphone. Dan saya bersyukur, bukan dia yang menjadi pasangan hidup saya.

Lalu, selang beberapa waktu, saya mulai dekat dengan sahabat saya sendiri. Walau tidak pernah terucap kata jadian, tapi kami menjadi sepasang kekasih, tanpa banyak orang tahu. Beberapa kali saya mengajaknya pulang. Ibu bilang dia alim, ganteng dan sopan. Tapi kali ini ibu salah. Karena tampang alim dan ganteng tidak menjamin kebaikan dan ketulusan hatinya yang sesungguhnya.

Hanya enam bulan menjalin hubungan dengannya, tapi dia masih menghantui saya hingga saya lulus kuliah. Dia saya dapati memiliki pacar lebih dari tiga selama menjalin hubungan dengan saya. Dan menjadi bertambah banyak ketika saya mulai mencari tahu. Bahkan, 2 di antara sekian banyak pacarnya yang lain masih berhubungan baik dengan saya hingga sekarang. Konyolnya lagi, kami pernah makan bersama dan saling berbagi cerita. Hahahaha…benar-benar reunian sesama korban selingkuhan.

Dia adalah sahabat saya. Tapi dia membuat perasaan saya terluka. Dia juga menyalahgunakan kepercayaan saya. Dan dia membohongi saya.

Ibu, kalau saat itu cowok yang alim dan ganteng itu nggak ketahuan punya pacar banyak, mungkin pula saat ini saya sudah menikah dengannya. Tapi, pasti ibu akan sedih ketika tahu bahwa hidup saya tidak bahagia karena dia selingkuh sana selingkuh sini.

Lalu, cowok bermarga itu pun datang dalam hidup saya. Ibu saya sempat khawatir karena dia bermarga. Tapi saya tidak peduli. Di antara pacar-pacar yang lain, dia yang paling saya sayangi dan sekaligus paling membuat saya kecewa dan patah hati. Saya menyukainya sejak pertama masuk kuliah. Namun, baru jadian ketika sudah mau lulus. Tiga tahun memendam perasaan. Akhirnya diberi kesempatan untuk bersama walau pun tidak sampai 2 tahun. Dia cowok yang mengajarkan banyak hal. Saya bisa berenang karena dia. Saya percaya diri melamar kerja di media juga berkat dia. Saya tahu banyak soal blog dan sosial media juga berkat dia. Walau dia galak, tapi saya tahu dia baik.

Tidak ada yang salah dengan hubungan kami kecuali marga. Dia Batak dan saya Jawa. Entah apa yang salah dengan itu. Tapi yang pasti dia tidak memiliki cukup keberanian mempertahankan saya. Awalnya hubungan kami goyah hanya karena hal itu. Hingga akhirnya, saya tahu dia punya hubungan spesial dengan cewek lain. Dan saya pun kecewa luar biasa.

Rasanya pengorbanan saya untuk pulang ke Jogja hanya untuk bisa bertemu dengannya sia-sia. Waktu itu, saya memang baru diterima bekerja di Jakarta. Dan beberapa minggu sekali saya pulang. Hanya karena ingin mempertahankan hubungan yang saya anggap patut dipertahankan.

Setibanya di Jakarta, saya menderita psikosomatis hingga masuk UGD. Gaji pertama saya lenyap untuk menebus biaya obat. Hanya karena putus cinta. Dan saya sangat menyesalinya.

Ibuku sayang, jika seorang laki-laki benar-benar mencintai dan ingin mempertahankan saya, dia tidak akan membiarkan saya menderita dan jatuh terluka. Dan dia tidak melakukannya.

Saya tidak menyesal mengenal mereka, karena mereka memberikan pelajaran berharga buat hidup saya. Ibu, jika ibu ingat masing-masing dari mereka, ibu pasti mengerti betapa saya dibuat sedih oleh mereka. Saya tidak mau laki-laki seperti itu yang akan menjadi pasangan hidup saya. Saya tidak ingin memilih laki-laki yang salah. Saya tidak ingin memilih laki-laki yang kerap menyakiti, membuat saya sedih dan menangis.

Saya ingin membuat ibu bahagia dengan menemukan laki-laki yang baik. Laki-laki yang menyayangi saya, menyayangi ibu dan semua anggota keluarga dengan tulus. Laki-laki yang akan bertanggung jawab sehingga ibu bisa percaya padanya untuk menjaga saya seumur hidup. Laki-laki yang akan menjadi teman baik, sahabat, pasangan hidup, kakak sekaligus partner yang baik.

Jadi, ibu jangan khawatir. Tidak perlu ambil pusing apa yang dikatakan orang, karena mereka tidak pernah mengerti apa yang kita rasakan dan kita hadapi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s