Uncategorized

Bagaimana Tuhan Mempertemukan Setiap Orang

fingers in crime :P

Tadi malam, terlibat pembicaraan dengan seorang teman yang selama hampir setahun ini menjadi “partner in crime” dan teman berbagi cerita tentang mimpi.

Kusebut “partner in crime”, karena bersama dia, aku melakukan beberapa hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya, termasuk mencoba mendesain kaos dan dia membantuku mewujudkannya.

Pernah juga aku tersesat bersamanya saat liburan yang membuat kami berdua terpisah dari rombongan. Karena tersesat, kami malah menemukan pemandangan indah di tengah perjalanan. Dan kuakui, saat itu adalah saat yang paling membuatku takjub, bahwa tersesat pun bisa membawa kita pada sesuatu yang tak terduga dan itu betul-betul pengalaman yang menyenangkan. Buatku sih menyenangkan, nggak tahu deh buat dia, hahaha.

Dan percakapan kami tadi malam seperti ini :

“Kadang-kadang aku merasa bahwa Tuhan itu membelokkan jalanku ketika aku merencanakan sesuatu yang besar dalam hidupku,” begitu kataku padanya melalui kolom chatting Whatsapp.

“Iya. Aku juga kadang merasa begitu” jawabnya.

“Termasuk bertemu denganmu dan mendesain kaos ini. Itu semua tak ada dalam plan-ku,” sambungku lagi.

“Iya ya. Aku kok bisa ketemu trus kenal sama kamu ya,” balasnya.

“Tuhan yang mempertemukan kita. Aku yakin. Mungkin kita dipertemukan agar saling mendukung untuk mewujudkan mimpi yang kadang terlupakan,” jawabku

“Tapi aku senang mengenalmu. Kamu sering memberiku semangat untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Walaupun kamu sendiri sedang dalam proses menemukan jalan hidupmu sendiri,” katanya.

“Aku sih percaya bahwa Tuhan mempertemukan kita dengan setiap orang pasti ada tujuannya. Mungkin kita ini adalah dua orang yang tersesat yang dipertemukan supaya saling memberitahu arah dan mendukung satu sama lain. Jadi nggak makin tersesat dan hilang somewhere outhere. Mungkin sih,” ujarku lagi.

Dan dia pun mengetik emoticon tertawa, lalu kami tertidur. Aku tertidur sambil berselimutkan pola-pola bantal hias pesanan yang sedang kukerjakan. Dan mungkin dia tertidur di antara kaos-kaos pesanan yang sedang ia kerjakan.

Perbincangan kami itu sejenak membuat aku berpikir tentang bagaimana Tuhan mempertemukan orang yang satu dengan yang lain. Tuhan, kesempatan, dan waktu lebih tepatnya.

Aku selalu yakin bahwa memang pertemuan kita dengan orang-orang di sekitar kita punya tujuan tertentu. Mungkin tujuan itu nggak kita pahami di detik itu juga. Namun, di suatu masa, ketika waktu membuat hari-hari kita jadi sibuk dan nyaris lupa, mungkin kita akan tersadar dan mulai berpikir. Lalu menemukan alasan-alasan mengapa kita dipertemukan dengan orang ini dan orang itu.

Aku juga selalu yakin bahwa seburuk apapun hal yang diperbuat oleh orang lain pada kita, atau sesedih dan sekecewa apapun hati kita karena pertemuan kita dengan seseorang di masa lalu, pasti ada pelajaran yang bisa kita petik.

Dan, yang kemudian menggelitik pikiranku adalah begitu hebatnya Tuhan menciptakan skenario hidup masing-masing orang, sehingga setiap scene hidup seseorang saling berkaitan satu sama lain dan membawa kita di masa sekarang. Dan ketika kita menyadarinya, kita akan berdecak kagum bahwa proses yang kita jalani itu membuat hidup kita menjadi lebih bermakna, lebih bertumbuh dan lebih berkualitas.

Dan betapa kadang kita tidak menyadari bahwa setiap scene hidup kita itu mungkin adalah jalan yang sedang Tuhan tunjukkan pada kita. Jalan yang akan mengarah pada sesuatu yang lebih baik.

Ketika aku memejamkan mata dan mulai mengingat-ingat detik aku memutuskan untuk memilih kuliah di universitas negeri meski jurusannya nggak terlalu kupahami, dibanding universitas swasta dengan jurusan yg sangat kuimpikan, mungkin saat itulah rangkaian scene hidupku dimulai. Bahwa kadang2 Tuhan memang membelokkan jalan kita dari rencana awal yg kita buat. And it’s okay. Because His way always better.

Kalau nggak kuliah di universitas negeri itu, aku nggak mungkin punya teman-teman dekat yang mengenalkan aku pada dunia media dan tulis menulis. Mereka memberikan pelajaran berharga yang hingga saat ini menghidupiku. Karena saat ini aku masih bekerja di perusahaan media dan pekerjaanku adalah seorang penulis. Jika bukan karena bekal menulis & saat itu sedang patah hati, aku juga tidak akan datang ke Jakarta lalu bekerja di perusahaan media terkemuka di Indonesia ini. Karena datang ke Jakarta sebenarnya adalah salah satu caraku untuk move on dari patah hati.

Jika tidak bekerja di perusahaan ini, aku tidak akan bertemu dengan adik-adik di Kolong jembatan yang kini setiap hari Sabtu kuajari pelajaran Bahasa Inggris, karena awal pertemuanku dengan mereka berkat tugas liputan. Sedikit banyak, pertemuanku dengan adik-adik itu membuat aku selalu merasa bersyukur dan bersyukur setiap hari atas hidup yang lebih berkecukupan dibandingkan hidup mereka. Bertemu dg teman volunter juga membuatku jd orang yang makin positif.

Jika tidak bekerja di perusahaan ini, aku tak akan bertemu teman-teman baik yang menularkan hal positif. Membuatku menyadari bahwa aku punya talenta mendesain.

Jika tidak bekerja di perusahaan ini, aku tidak akan ikut komunitas pecinta alam yang kemudian mempertemukanku dengan teman-teman yg membuatku belajar jd manusia yg lebih tangguh, nggak manja & membuka mata utk lebih menikmati hidup dg traveling, termasuk jg bertemu “partner in crime” yang semalam berbincang denganku itu.

Tanpa bertemu dengannya dan teman2 lain yg mendukungku, mungkin aku tidak akan termotivasi untuk segera memulai mengeksekusi mimpiku.

Dan mungkin scene-scene hidupku di atas masih akan terus berlanjut, berkaitan satu sama lain dan suatu saat akan sampai pada titik di mana kita meraih apa yang kita inginkan. Bersyukur untuk setiap peristiwa senang, sedih, kecewa, patah hati sehingga mengantarkan diri kita di masa yang lebih baik.

Bersyukur pada Tuhan, waktu dan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mengisi hidup kita dengan peristiwa sedih atau senang. Orang-orang yang memberi kita cinta atau rasa iri dan dengki. Ketulusan atau kebohongan. Perlakuan baik atau kasar. Pujian atau caci maki. Dan kita pun patut berterima kasih pada orang-orang dalam hidup kita.

Karena orang-orang yang hadir dalam hidup kita itu telah dirancang Tuhan, waktu dan kesempatan untuk menjadikan kita pribadi yang semakin bertumbuh, matang, berkualitas, kuat dan semakin tangguh seperti diri kita sekarang.

Lagu Jason Mraz ini sungguh menginspirasiku bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup memang menjadi bagian hidup kita, membentuk pribadi kita jd lebih baik dan semakin baik dan bertambah baik setiap hari.

Check the video here :

Who I Am Today – Jason Mraz

And I say, thank you much much much for those who ever lived and still live in my life. You make me to be who I am today 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s