Tulisan dari Hati

Kristina, Perempuan yang Kudoakan Malam Itu

“Kamu lagi di mana?”

“Di rumah sakit.”

“Kenapa? Siapa yang sakit?”

“Besuk teman kantor.”

“Sakit apa memangnya?”

“Maag parah. Sampai kena ginjalnya. Sekarang lagi dipancing dengan cuci darah. Sudah dua hari di ICU.”

“Cuci darah? Hemodialisis? Seperti yang baru kita obrolkan beberapa waktu lalu? Hemodialisis yang harus dijalani pamanmu juga karena ginjalnya sudah tak berfungsi dengan baik?”

“Iya. Makanya, kamu makan yang teratur. Maag kamu kan suka kumat-kumatan. Jaga makan, biar nggak seperti temanku ini.”

“Iya. Siapa nama temanmu? Malam ini kita doakan bersama, ya. Supaya dia diberi kekuatan dan kesembuhan sama Tuhan.”

“Namanya Kristina.”

Aku termangu di depan komputer. Menuliskan kembali rangkaian obrolan kita di malam itu. Dua bulan terakhir ini benar-benar berat buatku. Aku lelah menangis dan mengutuk. Aku  lelah bertanya dan menebak-nebak. Aku lelah terbangun dari tidur di malam buta dan membayangkan wajahmu. Wajahnya. Dan alat cuci darah seperti yang pernah kamu perlihatkan padaku melalui pesan BBM, saat kamu mengantar pamanmu ke rumah sakit untuk menjalani hemodialisis rutin.

Aku tak pernah menyangka bahwa obrolan malam itu adalah awal dari semua kekacauan hubungan kita. Ahhh, hubungan? Entahlah, apakah aku bisa menyebutnya sebagai hubungan seperti yang biasa disebut oleh pasangan lainnya.

Bahkan aku tidak pernah tahu dengan pasti seperti apa perasaanmu padaku. Namun, kau pasti paham, aku ngotot bahwa di antara kau dan aku ada seutas ikatan lantaran kau perlakukan aku layaknya pasangan bercinta.

Kita bergandengan tangan di sepanjang bibir pantai dan berpelukan. Kita berangan-angan memiliki bisnis yang akan kita besarkan bersama. Memiliki studio sablon sendiri dan toko yang akan kita dirikan setelah masing-masing dari kita re-sign dari tempat kerja kita sekarang. Menabung di celengan bergambar Barbie dan akan kita buka setelah masing-masing punya kita penuh oleh uang kertas 20.000-an. Itu semua untuk mewujudkan impian-impian kita. Pergi ke Singapore, Vietnam, Jepang, Belanda. Mendaki Rinjani, Kerinci dan Ranu Kumbolo.

Apakah itu tak cukup untuk menyebutnya sebagai hubungan? Atau hanya aku yang terlalu naif dan menganggap semua yang kau bicarakan adalah serius.

Berkali-kali aku menepuk pipiku. Memastikan semua rentetan peristiwa dua bulan terakhir ini bukan khayalan. Bukan pula episode serial drama korea yang sudah pensiun kutonton sejak tahun 2012 lalu.

Namun, jika ini semua digambarkan seperti sebuah drama, aku tak tahu harus memposisikan diriku sebagai tokoh antagonis atau protagonis.

Ketika aku menyadari sedang berada dalam kisah yang sedemikian rumit, tiba-tiba aku teringat sebuah serial drama Korea entah drama Jepang yang pernah kutonton.

Drama itu bercerita tentang seorang perempuan yang sangat menyayangi kekasihnya. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama, berbagi kisah dan membangun mimpi untuk masa depan. Hingga akhirnya, muncul seorang perempuan lain di tengah hubungan mereka.

Sialnya, perempuan lain itu menderita sakit parah dan ia sangat tergantung pada tokoh laki-laki. Dan, si tokoh perempuan hanya bisa menerima bahwa laki-laki yang ia sayangi harus bersama perempuan lain. Perempuan bertubuh lemah yang tidak mampu ia benci.

Hmmmhhhh… Well, kisah yang sedang berlangsung sekarang ini memang tak persis mirip serial itu. Namun, aku merasa sedang menjadi tokoh perempuan itu.

Kamu tahu, ketika aku tahu ada perempuan lain di hidupmu, hatiku sedih dan marah. Aku cemburu.

Namun, ketika aku kemudian tahu, bahwa dia sakit parah sampai harus menjalani cuci darah, yang tersisa dalam hatiku hanya kebingungan.

Aku tak paham mengapa dalam hidupmu tiba-tiba ada dia. Mengapa dia tiba-tiba menjadi sangat bergantung padamu? Mengapa dia harus memutuskan pertunangannya dengan pacarnya dan memilihmu? Aku tak paham. Dan mungkin ada lebih banyak hal yang tidak kupahami. Ada berbagai pertanyaan di kepalaku yang tak bisa kutemukan jawabannya.

Yang aku tahu, situasi ini menjadi demikian rumit. Aku tak bisa membencinya dan tak boleh marah, meski pun aku tahu, dia yang membuatmu menjadi menjauh dariku. Dia mencuri semua perhatian yang pernah kamu berikan padaku. Dan aku tak boleh marah. Ya, karena dia sakit parah dan aku lebih sehat. Dan aku tak boleh menawar. Aku tak boleh protes. Aku tak boleh iri. Karena dia sakit dan aku sehat. Titik.

Aku tak tahu siapa yang salah dan siapa yang harus kusalahkan. Mungkin bukan juga salahmu, salahnya atau salahku. Mungkin keadaan yang salah. Dan keadaan tak mungkin bisa diubah.

Aku marah. Namun, aku bisa apa? Sementara aku tahu, aku bisa melakukan lebih banyak hal dari dia dan  dia harus bergantung pada alat hemodialisis dan aku bisa makan enak, bisa jalan-jalan, bisa melakukan semua hal yang kusuka. Ya, bukankah aku harus bersyukur karena aku lebih sehat dari dia.

Aku benci situasi ini. Aku benci kehilanganmu. Aku benci kamu lebih memilih memperhatikannya ketimbang aku. Aku benci kamu kasihan padanya. Aku benci dan aku tak tahu bagaimana meluapkannya selain dengan tulisan ini.

Aku menyayangimu. Sungguh. Aku menyayangimu dengan segala kekurangan dan keburukanmu yang pernah kamu ceritakan padaku. Dengan segala kelebihanmu yang tak pernah kamu sadari.

Jika boleh aku meminta, aku ingin kamu tetap ada bersamaku dan berhenti memperhatikannya, berhenti memberinya harapan atau apa pun itu. Namun, bila memang kamu lebih ingin bersamanya, aku akan merelakan semua kenangan yang pernah kita miliki. Mengubur semua mimpi yang pernah kita bangun bersama.

Aku akan belajar melepasmu dan melanjutkan hidupku.

Semoga Kristina, perempuan yang pernah kudoakan malam itu, lekas sembuh dan lebih mencintai dirinya sendiri setelah ini.

I love you

-Beras Kencur-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s